Transformasi yang belum selesai: Melewatkan industri dalam langkah dari pertanian ke sektor jasa

Oleh Michael INSAIDOO (Ph.D)

Dalam literatur pembangunan ekonomi, negara-negara biasanya diharapkan untuk beralih dari pertanian ke industri, dan hanya kemudian ke ekonomi berbasis layanan.

Jalur ini, yang diikuti oleh kebanyakan ekonomi yang telah berkembang, membangun dasar manufaktur yang kuat sebelum beralih ke layanan seperti keuangan, pendidikan, dan ICT. Namun, Ghana telah menempuh jalur yang berbeda.

Ekonomi telah berpindah dari menjadi agraris secara besar-besaran menjadi berorientasi layanan, dengan industrialisasi yang terbatas. Meskipun ini mungkin terlihat sebagai jalur cepat untuk pembangunan, fase industri yang dilewati menimbulkan kekhawatiran serius mengenai keberlanjutan, lapangan kerja, dan pertumbuhan yang inklusif.

Trajektori Perkembangan Klasik

Secara historis, negara-negara seperti Inggris Raya, Jerman, Jepang, dan baru-baru ini Tiongkok, mengikuti transformasi struktural yang teratur. Pertanian memberi jalan kepada basis industri yang kuat, biasanya manufaktur dan pengolahan, yang menyerap sebagian besar tenaga kerja.

Perpindahan akhir ke sektor jasa didasarkan pada produktivitas industri dan modal yang berlebih. Dalam hal ini, industrialisasi memainkan peran penting dengan menciptakan lapangan kerja massal bagi pekerja rendah keterampilan, meningkatkan pendapatan ekspor melalui barang-barang yang diproduksi, mendukung usaha kecil dan menengah (UKM) dalam rantai pasok, serta mendorong kemajuan teknologi dan inovasi.

Realitas Ghana: Melompat Terlalu Cepat?

Di Ghana, kontribusi sektor pertanian terhadap PDB secara bertahap menurun dari sekitar 40% pada awal tahun 1990-an menjadi kurang dari 20% saat ini. Di sisi lain, sektor jasa telah meningkat pesat dan mendominasi perekonomian, berkontribusi lebih dari 45% terhadap PDB. Sektor-sektor seperti telekomunikasi, perbankan, pendidikan, dan ritel mengalami pertumbuhan cepat. Namun, sektor industri, terutama manufaktur, telah stagnan. Menurut Badan Statistik Ghana, kontribusi sektor industri terhadap PDB berada di kisaran 25% hingga 28%, didukung terutama oleh sektor ekstraktif (misalnya, minyak dan emas), bukan manufaktur yang bernilai tambah. Bagian manufaktur tetap rendah, dengan integrasi yang terbatas ke rantai nilai global atau regional.

Akibat Melewatkan Industrialisasi

Pertumbuhan Tanpa Pekerjaan

Layanan di Ghana sering kali bersifat intensif modal atau berbasis kota, menghasilkan sedikit pekerjaan dibandingkan kontribusinya terhadap PDB. Selain itu, pengangguran dan pengangguran terselubung kalangan pemuda tetap tinggi, karena sektor layanan tidak mampu menyerap tenaga kerja yang meningkat yang berpindah dari pertanian pedesaan.

Diversifikasi Ekspor Terbatas

Industrialisasi sangat penting untuk diversifikasi ekspor. Ketergantungan terus-menerus Ghana pada komoditas mentah seperti kakao dan emas membuat negara ini rentan terhadap gejolak harga. Selain itu, ketiadaan dasar industri yang kuat menghambat upaya untuk meningkatkan ekspor non-tradisional.

Keterkaitan yang Lemah

Sektor industri yang kuat menciptakan keterkaitan hulu dan hilir. Seseorang dapat membayangkan bagaimana pertanian kakao dapat mendukung pengolahan agro, kemasan, transportasi, dan ekspor. Di Ghana, rantai nilai seperti ini masih terpecah atau belum berkembang.

Kesenjangan Perkotaan dan Pedesaan

Tanpa pekerjaan manufaktur yang dapat menghubungkan kesenjangan antara daerah pedesaan dan perkotaan, migrasi memberatkan infrastruktur kota sementara daerah pedesaan tetap kurang berkembang. Industrialisasi secara historis telah membantu menyeimbangkan pembangunan regional, sebuah fitur yang hilang dalam pemandangan ekonomi Ghana.

Mengapa Ghana Melewatkan Industri?

Beberapa faktor terkait struktur dan kebijakan menjelaskan langkah dini Ghana. Ini termasuk pelaksanaan kebijakan industri yang lemah. Inisiatif seperti Kebijakan Industri Ghana (2010) dan Satu Distrik, Satu Pabrik (1D1F) telah menunjukkan dampak yang terbatas karena keterbatasan pendanaan, infrastruktur yang lemah, dan dukungan politik yang tidak konsisten. Faktor lainnya adalah biaya produksi yang tinggi.

Pasokan energi yang tidak memadai, jaringan transportasi yang buruk, dan utilitas yang tidak andal telah membuat sektor manufaktur Ghana menjadi tidak kompetitif. Selain itu, dampak globalisasi dan impor adalah faktor lain yang berkontribusi. Impor murah dari Asia dan daerah lain telah melemahkan industri lokal, terutama di bidang tekstil, elektronik, dan pengolahan agro. Selanjutnya, pertumbuhan sektor layanan dari ICT dan perbankan adalah faktor penentu lain dari situasi ini. Liberalisasi cepat ekonomi Ghana pada tahun 1990-an memungkinkan layanan berkembang dengan cepat, didukung oleh penerapan teknologi dan konsumsi kelas menengah perkotaan.

Jalan Menuju Masa Depan: Industrialisasi Masih Penting

Jika Ghana ingin mencapai pembangunan yang inklusif dan tangguh, sektor industri tidak boleh diabaikan. Rekomendasi kebijakan utama meliputi:

Perkuat Infrastruktur: Pasokan listrik, jalan raya, dan pelabuhan harus ditingkatkan untuk mendukung pabrik dan logistik.

Perbarui Pendidikan Teknis dan TVET: Untuk mendukung industri, Ghana harus berinvestasi dalam keterampilan teknis, fondasi dari manufaktur.

Perbaiki akses ke keuangan bagi UMKM: Startup manufaktur membutuhkan kredit jangka panjang dan terjangkau, sebuah keterbatasan konsisten di sektor swasta Ghana.

Pertahankan kebijakan konten lokal: Pertambangan, minyak, dan proyek publik besar harus mengintegrasikan manufaktur dan pengadaan lokal.

Lindungi industri yang baru berkembang: Perlindungan yang bersifat selektif dan berbatas waktu untuk industri lokal yang menjanjikan mungkin diperlukan agar mereka dapat berkembang.

Kesimpulan: Perjalanan Sampingan, Bukan Jalan Buntu

Struktur ekonomi Ghana saat ini tidak secara inheren cacat, tetapi tidak seimbang. Hanya sektor jasa yang tidak dapat menyelesaikan tantangan lapangan kerja dan ekspor negara tersebut. Fokus kembali pada industrialisasi, khususnya manufaktur berbasis nilai tambah, sangat penting jika Ghana ingin bergabung dengan daftar negara-negara berkembang dengan ekonomi yang diversifikasi dan tangguh. Waktunya untuk merevisi strategi ekonomi Ghana sekarang. Ekonomi yang didorong oleh sektor jasa berdasarkan basis industri yang lemah seperti rumah yang dibangun di atas pasir—menjanjikan, tetapi rapuh.

Penulis berada di Departemen Ekonomi dan Ilmu Actuaria, Universitas Studi Profesional, Accra.

michael.insaidoo@upsamail.edu.gh

Disediakan oleh SBNews Media Inc. (SBNews.info).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *