Sementara dunia memperingati 100 tahun sejak kelahiran Frantz Fanon, kita terdorong tidak hanya untuk meninjau kembali prosa yang menggelegar dan ideal revolusionernya, tetapi juga untuk menghadapi wilayah internal yang dia petai dengan gigih, luka jiwa dari kolonisasi dan proses yang menyakitkan namun indah dalam menjadi.
Bagi para seniman di seluruh Afrika, khususnya di sektor kreatif yang sedang berkembang di Zimbabwe, Fanon bukan hanya seorang teoritis tentang pembebasan, tetapi ia adalah bisikan di dalam studio, teriakan di atas panggung, dan sebuah kompas untuk menjelajahi labirin identitas, ingatan, dan imajinasi.
"Orang yang dikolonisasi dinaikkan di atas status hutan rimba-nya sejauh dia mengadopsi standar budaya negara ibunya." Kulit Hitam, Topeng Putih (1952)
Karya Fanon menganalisis pikiran yang dijajah, mengungkapkan diri yang terpecah, yang terjebak antara meniru dan penghapusan.
Bagi seniman Afrika, ketegangan ini bukan hanya filosofis; itu sangat menyentuh secara emosional. Ini menjawab retorika-retorika yang saya kemukakan dalam artikel ini.
Pertama-tama, bagaimana seseorang menulis lagu dalam bahasa yang pernah membungkam leluhurmu?
Pertanyaan ini tidak hanya menanyakan tentang linguistik, tetapi juga menanyakan tentang rasa sakit. Pertanyaan ini mengajukan bagaimana medium yang dahulu digunakan untuk menekan identitas kini dapat digunakan untuk membangkitkannya kembali.
Kreativitas masuk langsung ke dalam api ini. Dalam puisi, mereka sering menggunakan bahasa Inggris, bahasa penjajah, bukan sebagai pengakuan, tetapi sebagai strategi.
Pengarang mengambil bahasa dan membentuknya menjadi wadah protes, irama, ingatan, dan visi. Bahasa Inggris, Prancis, atau Portugis menjadi pisau bedah untuk membuka luka kolonial dan benang untuk menjahit makna baru.
Kreativitas merespons bukan dengan kuas, tetapi dengan suara, suara, dan napas. Musik menjadi lapisan dengan bahasa Shona, Ndebele, atau bahasa daerah lain yang merebut tubuh dan jiwa.
Di mana puisi dalam bahasa Inggris bertanya dan memicu, musik dalam bahasa Afrika menyembuhkan dan mengingat.
Melalui irama dan nada, seniman melukis tubuh bukan sebagai tempat malu, tetapi sebagai kuil ketangguhan. Seni menjadi cermin dan perisai sekaligus, mencerminkan rasa sakit dan melindungi kebanggaan.
Berbicara dari jiwa ketika jiwa telah dikodekan asing adalah melakukan tindakan sengaja untuk merebut kembali.
Ini membutuhkan kreatif untuk terlebih dahulu menghadapi realitas bahwa kolonialisme, imperialis budaya, dan penindasan sistemik telah menandai dunia dalam mereka suara, tradisi, dan kebenaran mereka sebagai tidak sah, eksotis, atau inferior.
Pengkodean jiwa sebagai "asing" ini bukan hanya tentang bahasa atau ekspresi; itu tentang identitas, ingatan, dan dislokasi spiritual.
Frantz Fanon, dalam Black Skin, White Masks dan The Wretched of the Earth, menggambarkan kondisi ini sebagai situasi di mana yang tertindas menginternalisasi nilai-nilai penjajah, menciptakan fraktur psikologis.
Hasilnya adalah kesunyian kreatif, jiwa yang bisu akibat malu yang dipaksakan, penyajian yang salah, dan penghapusan.
Tetapi berbicara dari jiwa ini mungkin dan diperlukan.
Dimulai dengan melepaskan kondisi kolonial dan memperkuat sistem pengetahuan asli. Kreativitas Afrika mencapainya dengan menjadikan ingatan leluhur, narasi komunitas, dan realitas hidup sebagai dasar.
Bahkan ketika menggunakan bahasa dan bentuk yang diperkenalkan oleh kolonialisme, isi jiwa tetap tak terbantahkan berakar pada pandangan dunia Afrika.
Misalnya, seorang penyair mungkin menulis dalam bahasa Inggris, tetapi ritme, simbolisme, dan gambaran secara khas dipengaruhi oleh tradisi lisan, puisi pujian, atau idiom spiritual.
Seorang penari mungkin tampil di panggung modern tetapi mengalirkan gerakan ritual dan tujuan komunal. Seorang desainer mungkin menggunakan kain global tetapi melilitkannya dengan cara yang menghormati estetika asli.
Dengan demikian, berbicara dari jiwa di bawah kondisi ini bukan berarti menolak yang global, melainkan mereafrikasi ekspresi, menyatakan bahwa jiwa itu tidak pernah asing, hanya diframing ulang. Ini adalah tindakan kelangsungan hidup, pemberontakan, dan kedaulatan budaya.
Fanon membantu kreatif untuk memahami bahwa jiwa mereka tidak rusak, tetapi terkubur di bawah berabad-abad ketidakaslian yang dipaksakan. Karya mereka, maka, adalah penggalian dan penyuarakan kembali jiwa tersebut, bukan untuk validasi oleh sistem eksternal, tetapi untuk penyembuhan dan pencerahan diri serta komunitas.
Fanon adalah seorang psikiater berlatar belakang dan seorang revolusioner oleh panggilannya. Pemahamannya tentang kolonialisme bukan hanya tentang tanah, tetapi juga tentang pikiran.
Dalam "The Wretched of the Earth" (1961), ia menulis tentang seni sebagai tindakan terapeutik, di mana orang-orang yang dijajah dapat memulihkan identitas yang terpecah melalui kreativitas.
Subjek yang dijajah selalu dianggap bersalah. Penduduk asli dinyatakan tidak peka terhadap etika; dia tidak hanya mewakili ketiadaan nilai, tetapi juga penyangkalan terhadap nilai.
Para Penderita Bumi
Inilah tepatnya tempat di mana seniman Zimbabwe yang terluka akibat sejarah kolonial, krisis ekonomi, dan dislokasi budaya — menemukan resonansi. Seni menjadi pemulihan memori, kembalinya irama, dan peninjauan ulang tentang diri sendiri. Dalam istilah Fanon, ini bukan nostalgia; ini adalah perlawanan.
Visi Fanon revolusioner, bukan hanya dalam politik, tetapi juga dalam estetika. Ia mengajak seniman untuk melampaui tiruan, menolak penyesuaian terhadap selera asing, dan menyelam ke dalam tanah jiwa rakyat mereka sendiri.
Karyanya memanggil kreatif untuk meninggalkan peran perantara budaya dan menjadi arsitek dari realitas baru yang didefinisikan sendiri.
Filosofi ini diwujudkan hari ini dalam berbagai disiplin seni. Dalam puisi dan kata-kata yang dibacakan, seniman menggali sejarah yang diabaikan, menghadapi ketidakadilan sosial, dan merefleksikan identitas menggunakan bahasa leluhur dan kontemporer.
Dalam musik, alat musik tradisional seperti mbira, ngoma, atau hosho digabungkan dengan suara modern seperti Afro-punk, elektronik, dan jazz, menciptakan lanskap sonik yang sekaligus futuristik dan dalam akar tradisinya.
Teater dan pertunjukan membangkitkan ritual melalui gerakan dan narasi yang menentang dramaturgi kolonial dan sebaliknya menempatkan ingatan komunal serta penyembuhan sebagai pusatnya. Dalam mode, tekstil, seni tubuh, dan motif etnis diubah kembali bukan sebagai latar belakang eksotis, tetapi sebagai arsip hidup perlawanan dan keindahan.
Seniman visual bergerak melebihi realisme kolonial menuju bentuk-bentuk abstrak dan simbolis yang terlibat dengan kosmologi Afrika dan realitas hidup. Di sisi lain, film dan cerita digital menggambarkan kondisi pasca-kolonial bukan hanya sebagai trauma, tetapi juga sebagai nubuat yang belum terselesaikan dan penyelesaian generasi.
Ini adalah para griot modern dan kreator Fanonian—suara-suara yang menolak untuk menjadi perantara bagi pandangan Barat dan justru berbicara dari dalam. Praktik mereka bukan hanya seni. Ini adalah pemberontakan. Ini adalah penyembuhan. Ini adalah pemulihan diri dan masyarakat.
Saat kita merenung tentang abad sejak kelahiran Fanon, marilah kita menahan diri untuk tidak mengurangi dia menjadi simbol atau slogan. Fanon adalah mendesak, radikal, dan sangat diperlukan.
Tulisan-tulisannya bukanlah refleksi pasif, tetapi alat aktif untuk pencerahan, kerangka kerja bagi revolusi internal dan kolektif.
Bagi kreatif dari Afrika hari ini, suaranya masih memanggil: untuk mengganggu, untuk menyembuhkan, untuk merebut kembali.
Di seluruh Zimbabwe dan benua ini, seniman bukan hanya pembuat budaya, tetapi mereka adalah penjaga ingatan dan ahli bedah spiritual, menghadapi beban sejarah dengan setiap lirik, gerakan, gambar, dan bahan yang mereka gunakan.
Dalam penolakan mereka untuk melupakan atau menyeragamkan, mereka memperlihatkan tantangan abadi Fanon. Detak jantungnya bergetar dalam seni yang berani mengganggu luka kolonial dan menyatakan:
Kami bukan apa yang kamu jadikan kami. Kami adalah apa yang kami klaim kembali.
nRaymond Millagre Langa adalah seorang penyair Zimbabwe, peneliti independen, musisi, dan aktivis yang karyanya menggabungkan ingatan leluhur dengan komentar sosial kontemporer. Ia juga pendiri Indebo Edutainment Trust, sebuah organisasi berbasis seni yang menggunakan ekspresi kreatif untuk menantang warisan kolonial, mempromosikan identitas budaya, dan memberdayakan komunitas melalui pendidikan dan pertunjukan.
