Ahli psikologi Carol Dweck menciptakan istilah "growth mindset" (pola pikir berkembang) untuk menggambarkan suatu pendekatan dalam mengubah proses pembelajaran. Dweck dan timnya mengamati bagaimana sebagian siswa merasa terganggu bahkan oleh kemunduran terkecil, sementara yang lain mampu pulih dari kegagalan dan tetap maju.

Meskipun pertama kali dirancang untuk mengubah cara mengajar anak-anak di sekolah, mentalitas berkembang (growth mindset) dapat diterapkan dalam banyak bidang yang berbeda. Sebagai contoh, dengan menerapkan mentalitas berkembang, Anda dapat membuat pekerjaan Anda lebih sukses.

Apa itu growth mindset?

Orang yang memiliki mentalitas ini percaya bahwa ia dapat mengembangkan kecerdasan danKemampuanSeiring berjalannya waktu. Alih-alih menganggap kemampuan seseorang tetap, mentalitas berkembang (growth mindset) mengasumsikan bahwa kita dapat membaik dengan lingkungan dan dorongan yang tepat. Menurut laporan "business".

Sebagai contoh, dalam mempelajari berbagai jenis pujian di sekolah, Dweck dan tim penelitinya menemukan bahwa memuji usaha lebih baik daripada memuji kecerdasan. Memuji seseorang karena dia pintar mendorong berkembangnya pola pikir tetap (fixed mindset), sedangkan fokus pada kerja keras menekankan pada upaya dan mendorong berkembangnya pola pikir berkembang (growth mindset).

Banyak orang percaya bahwa kecerdasan dan kemampuan adalah bawaan alami yang tidak dapat diubah. Namun demikian, dengan memfokuskan diri pada strategi-strategi tertentu, mereka dapat belajar beradaptasi dan mencapai hasil yang mereka inginkan.

Baik Anda memiliki pola pikir berkembang atau pola pikir tetap, hal ini akan memengaruhi cara Anda merespons kegagalan. Jika seseorang dengan pola pikir tetap percaya bahwa keterbatasan kemampuannya adalah penyebab kegagalannya, maka ia cenderung menyerah, meyakini bahwa dirinya tidak memiliki apa yang diperlukan untuk sukses.

Sebaliknya, orang yang memiliki pola pikir berkembang (growth mindset) percaya bahwa ia dapat meningkatkan kumpulan keterampilannya. PadaMenghadapi kegagalanIndividu dengan pola pikir berkembang cenderung mengubah strateginya dan bekerja lebih keras.

Cara menerapkan pertumbuhan mental dalam bisnis?

Dalam pidato yang disampaikannya pada tahun 2008 di Universitas Stanford, ia merujuk pada penerapan konsep pertumbuhan mental terhadap seorang pemimpin bisnis. Ia berpendapat bahwa hal ini sangat menentukan dalam pengembangan tim, pencapaian tujuan strategis, dan memotivasi karyawan.

Dweck mengatakan bahwa pemimpin dengan pola pikir tetap cenderung "menempatkan nilai yang lebih tinggi pada kesan tampak pintar, dan kurang percaya bahwa mereka atau orang lain dapat berubah." Pada saat yang sama, pemimpin dengan pola pikir berkembang "menempatkan nilai yang tinggi pada pembelajaran, terbuka terhadap masukan, serta percaya diri dalam kemampuan mereka untuk mengembangkan kemampuan diri sendiri maupun orang lain."

Cara-cara di mana mentalitas tetap dan mentalitas berkembang mempengaruhi bisnis

Dalam sebuah artikel di majalah alumni Stanford, Dweck menjelaskan lebih lanjut tentang cara-cara di mana mindset tetap (fixed mindset) dan mindset berkembang (growth mindset) mempengaruhi dunia bisnis. Mari kita jelajahi dua pendekatan utama untuk menerapkan growth mindset dalam pekerjaan Anda.

1. Menerima kesalahan

Dalam artikel tersebut, Duic berbicara tentang runtuhnya perusahaan Enron dan bagaimana budaya perusahaan sangat terobsesi dengan bakat dan kecerdasan. Fokus ini menekan para karyawan untuk berbohong dan berusaha menutupi masalah-masalah perusahaan. Tidak ada seorang pun yang ingin mengakui adanya jenis kegagalan apa pun karena kesalahan dianggap tidak dapat diterima.

Menerapkan pola pikir berkembang (growth mindset) pada budaya perusahaan Anda akan menciptakan suasana di mana semua orang menerima kesalahan sebagai bagian dari proses belajar. Alih-alih berusaha menyembunyikan kesalahan, anggota tim akan mengakui kesalahan tersebut dan mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki diri. Sebagai seorang pemimpin, Anda harus menyambut baik kesempatan untuk belajar dari kegagalan Anda sendiri—dan mendorong sikap yang sama dalam tim Anda.

2. Fokus pada pengembangan keterampilan

Ada implikasi bisnis dari mentalitas berkembang (growth mindset) dibandingkan mentalitas tetap (fixed mindset) dalam hal manajemen kinerja. Para pemimpin yang mengembangkan mentalitas ini lebih cenderung untuk berinvestasi pada program dan strategi yang dirancang guna mendorong pengembangan keterampilan baru atau peningkatan keterampilan yang sudah ada. Investasi semacam ini berpotensi menghasilkan anggota tim yang lebih kompeten, terlibat, dan efektif, bukan sekadar menyelesaikan kotak-kotak dalam evaluasi kinerja.

Institusi juga dapat memiliki pola pikir tetap (fixed mindset) atau pola pikir berkembang (growth mindset), yang juga dapat memengaruhi kinerja. Dalam penelitiannya, Dweck menemukan bahwa karyawan di perusahaan dengan pola pikir tetap lebih khawatir tentang kegagalan dibandingkan mereka yang bekerja di institusi dengan pola pikir berkembang. Hal ini menyebabkan meningkatnya tindakan curang, rahasia, dan pelanggaran. Karyawan tersebut juga menunjukkan tingkat komitmen yang lebih rendah serta tidak percaya bahwa perusahaan mereka mendukung mereka.

Dweck dan tim penelitinya memperhatikan pendekatan yang berbeda di institusi-institusi yang dikenal memiliki pola pikir berkembang (growth mindset). Sebagai contoh, di perusahaan-perusahaan ini, para atasan jauh lebih positif dibandingkan mereka di perusahaan dengan pola pikir tetap (fixed mindset). Mereka juga menilai karyawan-karyawannya sebagai lebih kooperatif dan inovatif.

Manfaat mental pertumbuhan dalam bisnis

Mudah untuk melihat bagaimana konsep pertumbuhan pikiran (growth mindset) bermanfaat bagi anak-anak, tetapi Anda juga dapat menerapkannya dalam pekerjaan Anda. Berikut adalah beberapa cara di mana ide ini dapat bermanfaat bagi pekerjaan Anda:

Membantumu berkembang di tengah tantangan:Setiap bisnis menghadapi tantangan, termasuk tantangan rekrutmen, isu-isu ekspansi, dan tantangan akuntansi. Perusahaan yang memiliki pola pikir berkembang melihat tantangan-tantangan ini sebagai peluang untuk tumbuh.

Membangun budaya inovasi:Jika Anda dan karyawan Anda terjebak dalam pola pikir yang tetap, maka akan sulit untuk berpikir di luar kotak dan menemukan solusi yang inovatif. Pola pikir pertumbuhan mendorong lingkungan yang mendukung lahirnya ide-ide baru, yang membantu bisnis Anda mengatasi persaingan dan unggul di pasar.

Mendorong pembelajaran sepanjang hayat:Individu dengan pola pikir berkembang menyadari bahwa mereka tidak pernah berhenti tumbuh, dan akan terus mencari peluang belajar baru untuk pengembangan profesional. Semangat belajar yang demikian memastikan perusahaan Anda tidak menjadi puas diri atau stagnan.

Memajukan akuntabilitas:Perusahaan dengan pola pikir berkembang akan menerapkan budaya akuntabilitas. Karyawan Anda akan bertanggung jawab atas kemenangan maupun kekalahan mereka, menyadari bahwa semuanya merupakan bagian dari jalan menuju kemajuan.

Jika sebuah organisasi ingin menerapkan pola pikir berkembang (growth mindset), maka kepemimpinanlah yang bertanggung jawab untuk menggerakkan perubahan tersebut. Anda dan para manajer tim Anda dapat memasukkan pola pikir berkembang ke dalam gaya kepemimpinan melalui pendorongan pembelajaran berkelanjutan, penerimaan terhadap kesalahan, serta fokus pada peningkatan potensi karyawan.

Seringkali strategi ini berarti merekrut dari dalam organisasi daripada mencari orang luar, melihat potensi setiap anggota tim, serta menghargai semangat untuk belajar lebih tinggi daripada kualifikasi dan pencapaian sebelumnya. Fokus pada kemampuan tim Anda untuk berkembang dapat memberikan keunggulan kompetitif yang signifikan bagi perusahaan Anda dibandingkan perusahaan yang hanya puas mempertahankan tingkat bakat yang ada saat ini.