Mengatur inovasi: keseimbangan antara menghambat dan memperstabil pasar
Saat percakapan global semakin intensif mengenai dorongan Amerika Serikat untuk deregulasi keuangan, penting untuk memahami konteks apa yang hal ini berarti bagi Kenya dan Afrika secara umum. Apakah pengurangan regulasi bisa menjadi kunci untuk membuka inovasi, inklusi keuangan, dan pertumbuhan ekonomi? Dan jika demikian, sampai sejauh mana? Salah satu studi kasus yang meyakinkan adalah M-Pesa dari Safaricom—salah satu platform uang elektronik via ponsel paling awal dan sukses di dunia. M-Pesa berkembang karena para pembuat kebijakan Kenya menerapkan pendekatan progresif dan fleksibel: mereka membiarkan inovasi memimpin, lalu menyusun regulasi untuk mendukung dan melindunginya. Sikap kolaboratif antara regulator, pembuat kebijakan, dan sektor swasta memungkinkan M-Pesa untuk berkembang pesat.

Saat ini, M-Pesa memproses lebih dari 20 miliar transaksi per tahun dan memfasilitasi lebih dari setengah dari PDB Kenya. Layanan ini telah mengubah inklusi keuangan, dengan lebih dari 80 persen penduduk dewasa menggunakan layanan ini untuk berbagai kebutuhan finansial sehari-hari—mulai dari transfer uang dan pembayaran tagihan hingga tabungan, pinjaman, dan investasi mikro. Keberhasilan ini memicu adopsi fintech di seluruh Kenya dan menginspirasi model serupa di berbagai negara.

Namun, ledakan inovasi ini juga telah menarik pelaku usaha yang tidak terregulasi. Sebagian di antaranya beroperasi di luar kerangka peraturan, menawarkan skema investasi berisiko tinggi serta produk kredit mudah yang membahayakan keuangan konsumen. Hal ini menegaskan sebuah kebenaran penting: Meskipun regulasi berlebihan dapat menghambat inovasi, inovasi yang tidak terkendali justru bisa memicu ketidakstabilan pasar dan mengikis kepercayaan publik.

Keseimbangan yang rapuh ini sangat relevan ketika regulator di Afrika mempertimbangkan dampak dari perubahan kebijakan AS. Sistem keuangan AS memainkan peran dominan dalam perdagangan global, dengan sebagian besar pembayaran lintas batas diarahkan melalui infrastruktur AS untuk penyelesaian dolar.

Setiap perubahan regulasi di Amerika Serikat—terutama yang berkaitan dengan kepatuhan, sanksi, atau kejahatan finansial—dapat secara langsung memengaruhi Kenya dan pasar negara berkembang lainnya.

Di satu sisi, lingkungan regulasi AS yang lebih fleksibel dapat mengurangi beban kepatuhan, menurunkan biaya transaksi, dan meningkatkan akses terhadap layanan keuangan global. Ini akan menjadi pengurangan beban yang menyenangkan bagi institusi lokal, banyak di antaranya menghadapi biaya tinggi untuk memenuhi standar regulasi AS.

Di sisi lain, deregulasi di AS juga dapat menyebabkan peningkatan volatilitas dan aliran modal keluar (capital flight), terutama jika hal tersebut memicu pergeseran global dalam aliran investasi.

Agenda deregulasi pemerintahan Trump 2.0, yang berakar pada doktrin "America First", bertujuan menjadikan Amerika Serikat lebih menarik bagi investor dengan menghilangkan hambatan-hambatan yang dianggap mengganggu bisnis. Hal ini berpotensi menarik investasi asing langsung dari pasar-pasar berkembang, termasuk Afrika.

Bagi para pembuat kebijakan di Afrika, hal ini membawa serta tantangan sekaligus peluang. Ini adalah saatnya untuk merenung: Bagaimana pasar-pasar di Afrika dapat menjadi lebih kompetitif dan tangguh? Apa saja reformasi yang diperlukan untuk menarik dan mempertahankan investasi? Bidang-bidang prioritas harus mencakup penguatan tata kelola dan kerangka regulasi guna memastikan transparansi dan kepastian; meningkatkan stabilitas politik dan ekonomi untuk membangun kepercayaan investor; mengurangi hambatan birokratis dan operasional demi mempermudah akses dan ekspansi pasar; berinvestasi pada infrastruktur digital untuk mendukung inovasi dan inklusi keuangan; serta melindungi konsumen dan investor melalui pengawasan dan penegakan hukum yang kuat.

Dengan secara proaktif menangani bidang-bidang ini, negara-negara Afrika dapat memposisikan diri sebagai tujuan yang menarik bagi modal global—tanpa mengorbankan stabilitas finansial atau perlindungan konsumen.

Kisah M-Pesa adalah pengingat kuat bahwa inovasi dan regulasi tidak saling eksklusif. Ketika didekati secara bijak, regulasi dapat menjadi katalisator, bukan hambatan, bagi pertumbuhan inklusif dan pembangunan berkelanjutan.

Penulis adalah Kepala Wilayah Timur Bagian Kepatuhan, Stanbic Bank. Disediakan oleh SBNews Media Inc. ( SBNews.info ).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *