Menhub Perintahkan KNKT Selidiki Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya, Basarnas Cari 30 Korban Hari Ini

, JATIM - Musibah baru saja terjadi pada kapal Feri KMP Tunu Pratama Jaya yang membawa 65 orang penumpang.

Kapal berbadan besar itu tenggelam di Selat Bali pada Rabu (2/7/2025) tengah malam, saat membawa penumpang yang mau menyeberang.

Selama ini KMP Tunu Pratama jaya beroperasi sebagai transportasi penyeberangan dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali, atau sebaliknya.

Kapal itu tenggelam sekitar pukul 23.35 WIB atau menjelang tengah malam.

Data yang dimiliki pihak berwenang, kapal tersebut mengangkut 53 penumpang dan 12 kru.

Artinya, terdapat 65 orang di dalam kapal tersebut. Sementara jumlah kendaraan sebanyak 22 unit.

Saat ini sudah ditemukan 29 orang selamat, 6 meninggal dunia, dan sekitar 30 orang dalam pencarian.

Hingga saat ini belum diketahui pasti penyebab tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali.

Maka, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi meminta Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk segera investigasi penyebab kecelakaan tersebut.

"Adapun penyebab kapal tenggelam, kami akan menyerahkan ke KNKT untuk dilakukan investigasi," kata Dudy dikutip dari Tribunnews.com.

Hadir juga dalam jumpa pers tersebut, Deputi Operasi SAR dan Kesiapsiagaan Basarnas, Laksamana Muda TNI R Eko Suyatno, Kapolda Jatim, Irjen Pol Nanang Avianto, dan jajaran lainnya.

Saat ini, tim dari Basarnas, kepolisian, TNI AL, ASDP, dan pihak terkait lainnya akan berfokus pada proses pencarian dan pertolongan para korban.

Upaya tersebut akan dimaksimalkan, mengingat saat ini masih memasuki masa golden time.

"Kami berterima kasih atas kerja sama dan koordinasi yang sangat baik dari seluruh pihak untuk proses ini," tambah Dudy.

Pihaknya memohon dukungan kepada seluruh pihak agar proses pencarian dan pertolongan bisa berjalan secara lancar.

"Saat ini pencarian dan penyelamatan terus dijalankan tim gabungan," ujarnya.

"Kami terima kasih atas kerja sama dan koordinasi yang sangat baik dari seluruh pihak," imbuhnya.

Pemerintah juga menyampaikan keprihatinan atas tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali.

"Juga penumpang yang cedera semoga diberi kesembuhan," tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, KMP Tunu Pratama Jaya dilaporkan tenggelam di Selat Bali, Rabu (2/7/2025) malam.

Deputi Operasional Basarnas, Laksamana Muda TNI R Eko Suyatno mengatakan tim SAR memaksimalkan upaya pencarian korban tenggelamanya kapal KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali pada masa golden time.

Masa masa golden time adalah periode krusial dalam operasi penyelamatan di mana kemungkinan menemukan korban dalam keadaan selamat masih tinggi.

Karena itu, tim SAR gabungan melanjutkan upaya pencarian korban pada Kamis (3/7/2025).

KMP Tunu Pratama Jaya tenggelam, Rabu (2/7/2025) malam sekira pukul 23.35 WIB.

Berdasarkan hasil identifikasi sementara, kapal membawa total 65 orang yang terdiri dari 53 penumpang dan 12 kru.

Selain itu, tercatat ada 22 kendaraan di dalam kapal.

Hingga Kamis malam, tercatat 29 orang ditemukan dalam keadaan selamat dan 6 orang ditemukan meninggal dunia.

Dengan data tersebut, masih ada sekira 30 orang lagi yang belum ditemukan dalam insiden kapal tenggelam tersebut.

“Hingga saat ini, kami telah menemukan 29 orang selamat dan enam korban meninggal dunia,” ungkap Laksamana Muda TNI R Eko Suyatno, dalam konferensi pers di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi, Jawa Timur,  Kamis malam.

Laksda Eko menegaskan bahwa pencarian tetap dilanjutkan pada malam hari mengerahkan kapal.

“Kami maksimalkan upaya malam ini juga. Kapal SAR Permadi dan Arjuna, beserta armada SAR lainnya, sudah kami kerahkan,” ujarnya.

Dalam operasi lanjutan, Basarnas juga akan mendapatkan dukungan dari TNI AL berupa dua kapal tambahan dan satu helikopter.

Penambahan ini diharapkan dapat memperluas cakupan pencarian dan mempercepat proses evakuasi.

“Kami ingin mengoptimalkan organisasi tugas pencarian dengan kolaborasi antara Kantor SAR Denpasar dan Surabaya, mengingat lokasi kejadian berada di selat yang menjadi batas dua wilayah kerja,” jelas Eko.

Eko menambahkan seluruh kegiatan pencarian telah dirancang agar tidak mengganggu arus penyeberangan kapal penumpang lainnya di Selat Bali, salah satu jalur laut tersibuk di Indonesia.

“Koordinasi terus kami jaga, agar operasi ini berjalan efektif namun tetap aman bagi lalu lintas laut di sekitar lokasi,” tegasnya.

Baca berita lainnya di Google News

Ikuti saluran di WhatsApp: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaYZ6CQFsn0dfcPLvk09

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *