SBNEwsBerikut adalah berita Populer Sumbar yang telah ditayangkan dalam 24 jam terakhir di Tribun Padang.
Ada berita mengenai daftar harga bahan pokok di Pasar Bawah Bukittinggi, cabai merah mengalami kenaikan menjadi Rp29.000 per kilogram.
Kemudian berita mengenai Festival Tabuik Pariaman 2025 selesaikan enam rangkaian acara menjelang Hoyak Tabuik.
Baca berita selengkapnya:
1.Harga kebutuhan pokok di Pasar Bawah Bukittinggi, Sumatera Barat relatif stabil di awal bulan Juli 2025.
Harga bahan pokok tersebut kembali stabil, setelah sempat naik pada 2 Juli 2025 di Pasar Bawah Bukittinggi.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Bukittinggi, Hendry, menyatakan bahwa sejumlah bahan pokok mengalami kenaikan harga pada tanggal 2 Juli 2025, termasuk di antaranya adalah bawang putih serta cabai merah keriting.
“Harga bawang putih naik Rp2.000 dan kini mencapai Rp38.000,” ujar Hendry.
"Sementara itu, harga cabai merah keriting mengalami kenaikan sebesar Rp3.000 dan mencapai Rp28.000 pada tanggal 2 Juli 2025," lanjutnya.
Hendry menyatakan bahwa harga bahan pokok lainnya pada tanggal 2 Juli 2025 relatif stabil hingga 4 Juli 2025.
Saat ini, harga kebutuhan pokok seperti bawang merah adalah Rp38.000, daging ayam ras seharga Rp37.200, dan daging sapi murni mencapai Rp150.000 per kilogram.
"Harga bahan pokok ini selalu tetap stabil di awal Juli 2025," katanya.
Harga kebutuhan pokok lainnya pada tanggal 4 Juni 2025, seperti telur ayam ras seharga Rp26.000, gula pasir Rp18.000, dan beras Rp16.700.
“Sementara harga minyak goreng dalam bentuk curah adalah Rp14.150 dan yang berbentuk kemasan seharga Rp18.800 per liter,” kata Hendry.
Kemudian, kata Hendry, harga bawang putih tetap bertahan di angka Rp38.000 setelah sebelumnya mengalami kenaikan pada 2 Juli 2025.
"Hanya harga cabai keriting yang mengalami kenaikan sebesar Rp1.000, kini harganya menjadi Rp29.000 per kilogram," tutup Hendry.
"Sebelumnya, pada 3 Juli 2025, harga cabai merah keriting mencapai Rp28.000 per kilogram," tambahnya.
2.Nuansa syahdu dan khidmat masih terasa di Kota Pariaman seiring penyelenggaraan Festival Tabuik 2025.
Hingga hari ini, Jumat (4/7/2025), berbagai upacara tradisional telah berhasil diselenggarakan, menandai perjalanan panjang yang akan mencapai puncaknya pada perayaan yang dinantikan, yaitu 6 Juli 2025 mendatang.
Antusiasme masyarakat lokal maupun wisatawan terlihat jelas di setiap penjuru kota, menyaksikan warisan budaya yang telah diturunkan secara turun-temurun.
Perayaan Tabuik Piaman 2025 akan dimulai pada tanggal 27 Juni dengan rangkaian acara Maambiak Tanah.
Di tengah gelapnya malam, sekelompok ahli waris mengambil segenggam tanah dari aliran Batang Muaro Pariaman, yang menjadi simbol kesucian dan awal mula penciptaan.
Tanah ini lalu dimasukkan ke dalam kuali tanah liat, menjadi benih awal Tabuik yang akan berdiri menjulang.
"Maambiak Tanah bukan hanya sekadar mengambil tanah biasa, ini merupakan ritual yang sarat makna. Tanah tersebut menjadi simbol asal usul kehidupan, sekaligus menjadi titik awal peringatan gugurnya Imam Husain," kata Bapak Zulbakri, Tuo Tabuik Pasa, saat dijumpai.
Ia menegaskan bahwa prosesi tersebut dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian dan ketundukan, sebagai wujud penghormatan yang dalam terhadap tradisi.
Berikutnya, pada tanggal 1 Juli, dilangsungkanlah prosesi maambiak Batang Pisang.
Batang pisang yang sudah ditanam dipotong dan diambil, kemudian dibawa ke rumah tabuik dengan diiringi musik tradisional, sebagai simbol dari keberanian serta semangat juang.
Batang pisang ini kelak akan menjadi elemen penting dalam pembangunan Tabuik.
Sehari setelahnya, tanggal 2 Juli, masyarakat melaksanakan ritual Maradai, sebuah prosesi pengumpulan berbagai bahan dan sumbangan dari warga.
Nuansa kebersamaan terasa sangat kental, dengan setiap individu ikut serta dalam mempersiapkan Tabuik.
"Maradai ini membuktikan betapa kuatnya hubungan kekeluargaan dan semangat gotong royong di Pariaman," ujar Bapak Zulbakri.
Seluruh lapisan masyarakat, dari yang tua hingga muda, turut ambil bagian dengan penuh keikhlasan. Kegiatan ini tidak hanya berkaitan dengan Tabuik semata, tetapi juga bertujuan untuk memperkuat hubungan silaturahmi serta melestarikan tradisi dari generasi ke generasi.
Pada 3 Juli, dua upacara penting yang penuh dengan suasana kesedihan dan duka cita digelar, yaitu Turun Panja, Maatam, dan Maarak Jari-Jari.
Turun Panja merupakan simbol yang melambangkan tangan cucu Nabi, yaitu Husain.
Panja ini kemudian diarak bersama Jari-Jari, yang merupakan simbol dari jari-jemari Imam Husain yang terputus saat bertempur.
Upacara ini disertai dengan tangisan dan puisi-puisi kesedihan yang mengenang kembali peristiwa tragis Karbala.
"Prosesi Turun Panja dan Maarak Jari-Jari merupakan momen yang sangat mengharukan. Kita diajak untuk merasakan kembali kesedihan mendalam akibat tragedi yang dialami oleh Imam Husain," kata Zulbakri.
Hari ini, tanggal 4 Juli, warga Pariaman menyaksikan prosesi Maarak Saroban. Saroban atau sorban, yang menjadi simbol mahkota Imam Husain, dijajakan keliling kota.
Rangkaian prosesi ini menjadi salah satu penanda bahwa puncak perayaan Tabuik semakin mendekat, sekaligus merupakan bagian dari rangkaian upacara yang sarat makna simbolis sebelum akhirnya Tabuik didirikan menjulang tinggi.
Dengan demikian, rangkaian prosesi pembukaan Tabuik Piaman 2025 telah berlangsung lancar dan bermakna.
Setiap tahapan tidak hanya berupa ritual semata, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai mulia serta rasa kebersamaan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Pariaman.
Perhatian semua orang kini terpusat pada 6 Juli 2025, di mana Tabuik Naiak Pangkek dan rangkaian puncak "Hoyak Tabuik" akan memenuhi Pantai Gandoriah, mengakhiri perayaan tahunan ini dengan semarak sekaligus penghormatan yang tulus.
