Bank Indonesia Waspada Inflasi Jelang Puncak Arus Wisatawan ke Bali

SBNEws, DENPASAR – Bali mewaspadai kenaikan inflasiyang mulai terjadi sejak Juni 2025, di mana inflasi tercatat mencapai 2,94% year-on-year (yoy). Bank Indonesia (BI) telah menyiapkan strategi guna mengendalikan laju inflasi pada masa mendatang.peak season wisatawan. 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, mengatakan bahwa inflasi di Bali ke depannya masih perlu diwaspadai karena berada di atas tingkat inflasi nasional, baik secara bulanan maupun tahunan, yang masing-masing tercatat sebesar 0,19% month-to-month (mtm) dan 1,87% year-on-year (yoy).

Diperlukan penguatan upaya pengendalian inflasi melalui kerja sama, inovasi, serta sinergi dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), terutama dalam menghadapi periode mendatang.peak seasonKunjungan wisatawan asing bersamaan dengan periode tersebutsummer holiday" ujar Erwin sebagaimana dikutip dari siaran pers pada Jumat (4/7/2025).

Secara spasial, semua Kota/Kabupaten IHK mengalami inflasi baik secara bulanan maupun tahunan. Kabupaten Badung mencatatkan inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,53% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 2,11% (yoy), diikuti oleh Kota Denpasar dengan inflasi bulanan 0,48% (mtm) atau inflasi tahunan 3,30% (yoy).

Berikutnya, Kota Singaraja mencatatkan inflasi bulanan sebesar 0,37% (mtm) atau inflasi tahunan 2,79% (yoy), sementara Kabupaten Tabanan mengalami inflasi bulanan sebesar 0,29% (mtm) atau inflasi tahunan 3,38% (yoy).

Secara bulanan, inflasi di Provinsi Bali utamanya dipengaruhi oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, sehubungan dengan terbatasnya pasokan komoditas hortikultura dari daerah penghasil seperti Bangli, Tabanan, Bima, Sembalun, serta dari Jawa (Lumajang, Kediri, Banyuwangi, Brebes) akibat kondisi iklim kemarau basah dan hambatan distribusi.

Secara bulanan, inflasi pada Juni 2025 utamanya disebabkan oleh kenaikan harga cabai rawit, tomat, sawi hijau, buncis, serta cabai merah berdasarkan komoditasnya.

Di sisi lain, inflasi yang lebih tinggi dicegah oleh turunnya harga daging babi, bawang putih, daging ayam broiler, jeruk, serta bensin.

Penurunan harga daging babi dan jeruk terjadi sejalan dengan kembalinya permintaan ke kondisi normal setelah Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

Ke depan, beberapa risiko yang perlu diwaspadai termasuk peningkatan permintaan barang dan jasa saat memasuki periode tersebut.peak seasonKunjungan wisatawan asing, peningkatan biaya pendidikan menjelang dimulainya tahun ajaran baru, dan kenaikan harga emas perhiasan sejalan dengan naiknya harga emas global.

Selain itu, cuaca yang tidak menentu selama musim kemarau basah juga berisiko mengganggu produksi tanaman hortikultura.

Mengantisipasi kemungkinan risiko inflasi di masa mendatang, Bank Indonesia Provinsi Bali terus menggalakkan kolaborasi dan inovasi bersama seluruh Pemerintah Kabupaten/Kota di Bali dalam menjalankan strategi pengendalian inflasi berlandaskan prinsip 4K, yaitu Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, serta Komunikasi yang Efektif.

Dalam pandangan jangka menengah hingga panjang, Bank Indonesia Bali juga mengajak seluruh TPID untuk mempertahankan stabilitas harga serta meningkatkan ketahanan pangan dengan cara meningkatkan produktivitas sektor pertanian.

Upaya peningkatan produktivitas bisa dilakukan dengan mengendalikan hama pada musim kemarau yang lembap, mengoptimalkan regulasi untuk perlindungan lahan pangan secara berkelanjutan dan mencegah alih fungsi lahan, memperbaiki infrastruktur irigasi, menggunakan benih berkualitas tinggi, serta mengembangkan pengolahan hasil pertanian lebih lanjut.

Erwin mengatakan bahwa Bank Indonesia bersama dengan TPID Provinsi dan seluruh TPID Kabupaten/Kota di Bali akan terus meningkatkan serta memperluas pelaksanaan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dengan cara memperkuat produktivitas sektor pertanian, mengoptimalkan kolaborasi antar wilayah, serta meningkatkan efisiensi pada rantai pasok melalui pembentukan ekosistem ketahanan pangan yang melibatkan BUMDES, Perumda pangan, dan koperasi.

"Kolaborasi ini juga akan melibatkan rantai pasok dari hulu ke hilir, mulai dari petani, penggilingan, Perumda Pangan, hingga pelaku usaha horeka (hotel, restoran, dan kafe), dengan didukung penguatan regulasi penggunaan produk pangan lokal oleh sektor horeka di wilayah setempat. Dengan langkah-langkah strategis ini, Bank Indonesia Bali yakin inflasi di Provinsi Bali pada tahun 2025 akan tetap berada dalam kisaran target nasional sebesar 2,5%," kata Erwin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *