Usaha kecil dan menengah serta inisiatif yang berhasil

Usaha kecil dan menengah merupakan tulang punggung perekonomian negara, jumlahnya mencapai lebih dari 90% dari total perusahaan di seluruh dunia, serta menyumbang antara 50 hingga 70% lapangan kerja di sektor swasta. Kontribusi usaha kecil dan menengah terhadap produk domestik bruto (PDB) berbeda-beda di setiap negara; di Amerika Serikat kontribusinya mencapai 44%, sedangkan di negara-negara Uni Eropa kontribusinya mencapai 56% dalam nilai tambah, sementara di Tiongkok angka ini lebih tinggi, yaitu mencapai 60% kontribusi terhadap PDB nasional.

Situasinya berbeda untuk negara-negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC), di mana rasio ini turun menjadi 20% dari PDB di Arab Saudi. Pasalnya, walaupun usaha kecil dan menengah (UKM) mencakup 99% dari total perusahaan, kontribusinya terhadap penciptaan lapangan kerja di sektor swasta hanya sebesar 63%. Arab Saudi telah berupaya mendukung UKM melalui berbagai insentif guna meningkatkan kontribusi mereka terhadap PDB hingga mencapai 35%.

Namun, usaha kecil dan menengah merupakan sektor yang paling rentan dalam perekonomian karena berbagai alasan, di antaranya: kesulitan dalam memperoleh pendanaan akibat tingginya bunga pinjaman yang mereka dapatkan. Selain itu, arus kas dalam perusahaan-perusahaan ini menyebabkan sekitar 50% dari perusahaan tersebut gagal pada tahun pertama. Hal ini didukung oleh tingginya biaya operasional seperti sewa, utilitas, dan pajak.

Faktor-faktor ini ditambah lagi dengan faktor eksternal seperti fluktuasi pasar, misalnya kenaikan harga bahan baku atau penurunan permintaan terhadap produk. Krisis seperti SBNEws juga menimbulkan masalah tambahan; selama masa pandemi (Covid-19), sebanyak 20 hingga 30% usaha kecil dan menengah terpaksa tutup secara permanen maupun sementara. Ditambah lagi dengan masuknya perusahaan-perusahaan besar dalam persaingan, akibat terbatasnya peluang yang tersedia di pasar. Di tengah semua ini, kurangnya pengalaman manajerial, lemahnya infrastruktur teknis, serta tantangan organisasi memberikan tekanan tambahan yang berujung pada kegagalan usaha-usaha tersebut.

Dari yang disebutkan di atas, jelas bahwa terdapat sejumlah faktor penting yang harus diadopsi oleh negara-negara untuk melindungi usaha-usaha ini dan memastikan peningkatan kontribusinya terhadap perekonomian. Faktor utama di antaranya adalah dukungan pemerintah berupa kredit lunak dan pembebasan pajak seperti program "Manshat" di Arab Saudi. Selain itu, dukungan pemerintah juga dapat berupa inisiatif-inisiatif lainnya seperti penguasaan teknologi dengan harga yang kompetitif, pengurangan biaya pembangunan serta regulasi, dan pembentukan inkubator bisnis dan inovasi pemerintah, sehingga negara menanggung proporsi yang lebih besar dari biaya riset, pengembangan, dan produksi.

Pemberdayaan teknologi sangat penting serta mendukung transformasi digital bagi perusahaan-perusahaan ini, termasuk penjualan secara daring (online) dan berbagai hukum yang terkait dengannya, guna memastikan kelangsungan hidup perusahaan-perusahaan tersebut di pasar. Negara juga memiliki tanggung jawab lebih besar dengan menyediakan dukungan logistik dan bantuan harga bagi perusahaan-perusahaan ini—terutama pada beberapa tahun awal. Selain itu, dibentuknya serikat industri yang memberikan informasi dan pengetahuan serta memberi peringatan mengenai risiko-risiko yang mungkin terjadi, serta tersedianya asuransi kolektif yang memberikan perlindungan kepada perusahaan dalam bentuk keanggotaan kelompok, bukan individual.

Mungkin penting bagi kami sebelum mengakhiri artikel ini untuk memberikan contoh-contoh keberhasilan global dalam adopsi dan dukungan terhadap usaha kecil dan menengah. Di antara inisiatif terpenting adalah yang diberikan oleh Visi Arab Saudi 2030 melalui penyediaan Bank Pembangunan Sosial, pinjaman nol bunga, serta inisiatif inkubasi seperti "Bader", "Wadi Teknologi", dan "Tawteen" yang bertujuan mencapai 40% pembelian pemerintah dari usaha-usaha kecil dan menengah tersebut.

Ada juga contoh-contoh keberhasilan lainnya seperti pengalaman Singapura yang membawanya ke posisi pertama dalam kemudahan berbisnis melalui platform teknologi dan pinjaman bersubsidi pemerintah serta inkubator bisnis yang membantu perusahaan-perusahaan ini mencapai 70% penggunaan solusi teknologi digital canggih. Korea memiliki pengalaman serupa yang meningkatkan kontribusi perusahaan-perusahaan ini hingga 52% dari produk domestik bruto melalui pendanaan, pembebasan pajak, dan pembelian oleh pemerintah. Pengalaman sukses lainnya juga terjadi di Jerman, di mana perusahaan-perusahaan tersebut berhasil menyediakan 60% dari total lapangan kerja di negara itu. Sementara di Malaysia, perusahaan-perusahaan ini memberikan kontribusi dalam menyediakan 70% lapangan pekerjaan. Topik ini sangat luas dan akan saya bahas lagi di masa mendatang.

Disediakan oleh SBNews Media Inc. (SBNews.info)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *