● Kanker sebabkan lebih dari 400 ribu kasus dan 240 ribu kematian di Indonesia.
● Kanker sulit diobati karena karakteristik penyakitnya yang beragam.
● 30-50% kasus kanker dapat dicegah dengan perubahan gaya hidup dan deteksi dini sebelum kanker menyebar.
Miliaran sel dalam tubuh kita akan selalu bertumbuh untuk menggantikan sel-sel yang rusak supaya fungsi tubuh tetap optimal.
Namun, saat mengalami kanker , pertumbuhan sel terjadi terus-menerus , tidak terkontrol, dan kian berbahaya ketika menyebar ke bagian tubuh lainnya (metastasis). Sebab, kondisi ini bisa memicu berbagai komplikasi kerusakan organ vital yang mengancam jiwa .
Di Indonesia, data Pusat Observasi Kanker Global (GCO) pada 2022 mengungkapkan, ada lebih dari 400 ribu kasus kanker baru yang terdeteksi. Namun, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkirakan jumlahnya bisa lebih dari itu , yakni mencapai satu juta kasus pada 2025.
Salah satu tantangan dalam penanganan kanker ialah menjinakkannya ketika sudah menyebar. Akibatnya, 50-60% kasus kanker bisa berujung kematian . Di Indonesia, kasus kematian akibat kanker mencapai lebih dari 240 ribu .
Para ahli mengungkapkan bahwa cara terbaik untuk mencegah dampak mematikan kanker adalah dengan menjaga pola hidup sehat , serta melakukan deteksi dan terapi dini sebelum kanker menyebar . Artikel ini akan mengulas alasannya.
Cara mengobati kanker
Sebelumnya, kita perlu memahami bagaimana prinsip pengobatan kanker sejauh ini. Terdapat beragam pengobatan kanker , mulai dari pembedahan, kemoterapi (penggunaan obat-obatan), dan radioterapi (penggunaan radiasi).
Kemoterapi dan radioterapi bekerja dengan menargetkan sel-sel yang membelah dengan cepat, tetapi tidak spesifik. Akibatnya, selain merusak sel kanker, kedua pengobatan ini berisiko merusak sel-sel sehat yang pertumbuhannya cepat (misalnya sel rambut dan sel lapisan rongga mulut).
Dampak keduanya berupa efek samping terapi yang dialami pasien, seperti rambut rontok dan sariawan.
Sementara itu, pendekatan terapi modern (seperti terapi target dan imunoterapi) menargetkan sel kanker secara lebih spesifik. Terapi target bekerja dengan menyerang molekul spesifik pada sel kanker, sementara imunoterapi membantu sistem imun tubuh mengenali dan menghancurkan sel kanker.
Sayangnya, efektivitas kedua terapi ini masih terbatas pada jenis-jenis kanker tertentu yang memiliki karakteristik khusus, seperti kanker paru nonsel kecil, usus besar, ginjal, dan melanoma (kanker di sel penghasil pigmen kulit).
Meskipun terapi kanker terus berkembang, sebagian besar penyakit pasien tetap kambuh karena tidak semua sel kanker dapat musnah .
Tantangannya sel kanker sangat beragam
Salah satu penyebab kanker sulit disembuhkan adalah karena keganasan bukan penyakit tunggal. Kanker merupakan kumpulan penyakit dengan karakteristik yang sangat beragam .
Fenomena ini disebut heterogenitas kanker . Dalam satu massa tumor (sel tidak normal) yang diidap seseorang, terdapat berbagai kelompok sel dengan sifat genetik, kemampuan metabolisme, dan respons yang bervariasi terhadap terapi.
Perbedaan respons ini memungkinkan sebagian sel kanker tetap bertahan dalam tubuh, lalu tumbuh kembali sehingga memicu kambuhnya penyakit ini.
Penelitian tahun 2024 mengungkapkan bahwa sel kanker yang telah menyebar ke organ lain (seperti hati atau otak) juga mengembangkan keragaman. Sel-sel ini mengembangkan kemampuan bertahan hidup dengan sifat genetik yang berbeda dengan massa kanker di lokasi utamanya.
Hal ini mengakibatkan pengobatan menjadi semakin sulit. Karena itu, untuk bisa menghilangkan kanker sepenuhnya, terapi harus mampu membunuh semua kelompok sel kanker, tidak hanya kelompok besar saja.
Mencegah dan deteksi dini jauh lebih baik
Uniknya karakteristik penyakit kanker membuat pencegahan dan deteksi dini masih menjadi pendekatan yang paling rasional.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan sekitar 30-50% kasus kanker dapat dicegah dengan perubahan gaya hidup . Agar tidak terkena kanker, kita perlu menjaga gaya hidup sehat dan menghindari sederet faktor yang bisa memperbesar risiko keganasan , seperti merokok, konsumsi alkohol, pola makan tidak sehat, obesitas, kurang olahraga, dan sering terpapar polusi udara.
Kita perlu menerapkan gaya hidup sehat seiring bertambahnya usia maupun jika kita memiliki riwayat keturunan keluarga dengan kanker . Pasalnya, kedua hal ini perbesar kecenderungan mengalami penyakit tersebut.
Selain itu, deteksi dini berperan penting dalam pengobatan. Penelitian terbaru dari American Association for Cancer Research mengungkapkan kanker yang ditemukan pada stadium awal memiliki peluang kesembuhan jauh lebih tinggi.
Pemeriksaan rutin dapat mendeteksi kanker sebelum menyebar, sehingga memungkinkan tindakan medis yang lebih efektif.
Kanker merupakan penyakit yang kompleks. Meski belum semua jenis keganasan bisa diobati, pesatnya perkembangan terapi kanker dalam beberapa dekade terakhir, terbukti meningkatkan angka harapan hidup pasien kanker sebanyak dua kali lipat .
Di masa depan, pengobatan kanker akan mengarah pada terapi yang didasarkan pada profil genetik masing-masing pasien ( personalized medicine ). Namun, sampai ditemukannya terapi yang efektif untuk benar-benar menghilangkan sel kanker, pencegahan dan deteksi dini masih menjadi strategi paling efektif yang bisa kita lakukan dengan mudah.
Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation , situs berita nirlaba yang menyebarluaskan pengetahuan akademisi dan peneliti.
- Studi terbaru temukan cara kembalikan sel kanker jadi normal: Berpotensi sembuhkan penyakit
- 4 gejala ini bisa bantu deteksi kanker ovarium lebih dini
Ardo Sanjaya menerima dana hibah penelitian dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi.