18 Mei 2025 | Ditulis oleh Husni Anggoro | Dibaca 4.574 kali
Jeddah (PHU) – Usianya telah menginjak 109 tahun, namun semangat Mbah Sumbuk untuk menunaikan ibadah haji tak pernah pudar. Setibanya di Terminal Haji Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, Minggu pagi (18/5/2025), air mata haru mengalir di wajah renta wanita asal Kebumen, Jawa Tengah ini.
Dengan suara pelan namun sarat makna, ia berucap, “Alhamdulillah... Mbah tekan kéné...”, sebagai ungkapan syukur telah menginjakkan kaki di Tanah Suci setelah perjalanan panjang dari tanah air.
Perjalanan Spiritual Jemaah Tertua dari Indonesia
Mbah Sumbuk tergabung dalam kelompok terbang JKS-33 dari Embarkasi Jakarta-Bekasi. Meski raganya sudah renta dan hanya bisa bergerak menggunakan kursi roda, semangat ibadahnya tetap membara. Ia ditemani oleh anak kesepuluhnya yang setia mendampingi sepanjang perjalanan udara sekitar sembilan jam tersebut.
Begitu sampai di terminal, Mbah Sumbuk memandang sekeliling dengan penuh kekaguman. “Alhamdulillah, nembe kiye numpak pesawat, wis tua...” ujarnya lirih.
Namun ada satu hal yang mencuri perhatian para petugas—pertanyaan sederhana namun menyentuh hati:
“Ngendi lemeté, Le? Kowe ngerti ora, ana lemet ora neng kéné?”
Lemet, jajanan tradisional dari singkong parut dan gula jawa, rupanya menjadi simbol kerinduan nenek sepuh ini terhadap kampung halaman.
Sambutan Hangat dan Kisah Emosional di Jeddah
Sukmi (56), anak Mbah Sumbuk yang turut mendampingi, mengungkapkan bahwa selama di pesawat ibunya hampir tidak makan. Maka tak heran, setibanya di Jeddah, ia mencari makanan khas yang mengingatkannya pada rumah.
Momen hangat terjadi saat salah satu petugas haji, Warijan dari Media Center Haji (MCH), menyapanya. Begitu tahu Warijan juga berasal dari Kebumen, raut wajah Mbah Sumbuk langsung cerah.
“Kowe wong Kebumen, Le?” tanya Mbah Sumbuk.
“Inggih, Mbah. Nyong asli Kebumen,” jawab Warijan hangat.
Mbah Sumbuk pun menggenggam tangannya dengan harapan, “Yo wis, melok nyong wae yo nang Makkah.”
Namun Warijan menjelaskan dengan lembut bahwa ia hanya bertugas di bandara, sembari meyakinkan bahwa di Makkah pun banyak petugas dari Kebumen yang siap membantu.
Fasilitas Khusus untuk Kenyamanan Jemaah Lansia
Mengingat kondisi fisik Mbah Sumbuk, pihak penyelenggara menyiapkan bus dengan fasilitas lift hidrolik untuk membawanya ke Makkah. Kursi rodanya langsung dinaikkan ke dalam bus tanpa harus dipindahkan, demi memastikan kenyamanan dan keselamatan jemaah istimewa ini.
Saat cuaca Jeddah yang terik mulai terasa, Mbah Sumbuk sempat meminta air minum. Para petugas sigap memberikan bantuan, memastikan beliau tetap nyaman selama proses keberangkatan menuju Makkah.
Simbol Ketulusan dan Cinta yang Tak Pernah Luntur
Kehadiran Mbah Sumbuk sebagai jemaah haji tertua Indonesia tahun ini bukan sekadar angka usia. Ia adalah sosok inspiratif—simbol keteguhan niat, keikhlasan, dan cinta mendalam kepada Allah SWT. Di usia yang sudah lebih dari seabad, ia datang memenuhi panggilan suci dengan hati yang tulus dan jiwa yang berserah.
Semoga Allah SWT melimpahkan kemudahan bagi setiap langkah ibadah haji beliau, dan menjadikan perjalanannya sebagai jejak sejarah penuh makna bagi bangsa ini. Karena sejatinya, cinta sejati kepada Sang Pencipta tak mengenal usia—dan selalu menemukan jalannya, meski harus menunggu seratus tahun lamanya.
Sumber : haji.kemenag.go.id
